Udara menampakkan semangatnya yang layu. Atmosfer dingin. Di luar langit sedang mengarsir dirinya dengan warna abu-abu. Kondisi jiwaku pun semerana cuaca hari ini. Setelah menganggur lebih dari setahun akhirnya aku mendapatkan pekerjaan sebagai pekerja pabrik di kota pahlawan ini. Hidup yang keras. Usaha untuk kuliah telah aku lakukan dan 3 kali aku mendaftar di sekolah kedinasan aku gagal semua! Entah karena kebodohanku atau kenapa? Dari semua kegagalan yang aku lalui, aku belajar satu hal penting. Oh.. gini ya rasanya nggak bisa sekolah saat orang lain bisa sekolah. Oh.. ternyata pendidikan itu sangat mahal ya. Ah, kenapa aku baru sadar BETAPA BERHARGANYA PENDIDIKAN!! Saat frustasiku dulu, aku benar-benar marah sama orang-orang yang menyia-nyiakan pendidikan! “Hai mahasiswa yang pada tawuran di luar sana! Kalau udah nggak niat kuliah lagi, sana pergi jauh, aku siap menggantikan posisi kalian!” begitu bisik hatiku.
Rabu, 02 Januari 2013
Cerpen 18 :: Mewujudkan Mimpi
Oleh : Resy Iswari (SMA)
Aku terlahir dari sebuah keluarga yang sederhana, meskipun sangat sederhana tapi aku sangat cinta keluargaku. Aku termasuk anak yang sehari-hari menghabiskan waktu dengan bermain, yang anehnya setiap bermain aku tidak pernah bermain bersama perempuan karena faktor lingkungan, disekitar tempat tinggalku tidak ada seorang pun anak perempuan yang seusia denganku. Aku tidak pernah mencoba belajar memasak padahal aku seorang perempuan. Di waktu masih SD aku termasuk salah satu anak yang berprestasi, aku sering ikut lomba mata pelajaran, tapi aku tidak pernah juara kelas entah kenapa, tapi ketika penerimaan hasil ujian nasional aku terkejut karena aku mendapat peringkat ke 3, meskipun tidak perringkat pertama tapi aku sangat bahagia, kali pertamanya aku mendapat juara di sekolah ku.
Cerpen 17 :: Kesuksesan Yang Tertunda
Oleh : Musa (SMA)
Tak pernah terfikirkan olehku kejadian yang baru saja terjadi, semua terjadi begitu cepat sehingga hal itu terjadi begitu saja tanpa aku bisa berbuat apa-apa. Tangisanku membelah kesunyian alam dan semuanya mendengarkan tangisan, ratapan serta doaku. Betapa tidak, aku harus berpisah dengan keluarga hanya dalam 1 detik. Yang paling menyakitkan bagiku adalah aku belum bisa bertemu mereka untuk saat ini. Tak ada kabar tentang keberadaan mereka, melainkan hanya kabar meninggalnya keluargaku. Tak ada yang menghiburku, karena semuanya juga sedang dalam keadaan berkabung. Hari demi hari selalu terdengar suara tangisan dan solawat, ataupun suara bacaan-bacaan ayat suci AL-QUR’AN. Ingin rasanya aku menyusul mereka tetapi aku masih mempunyai masa depan yang panjang dan memiliki janji kepada orang tuaku yang belum terpenuhi.
Cerpen 16 :: LoveMath-Mluphmet-Mumet
Oleh : Liah (SMK)
Hari ini adalah hari yang mengenaskan bagiku. Tanya kenapa? karena tadi Pak Dian memberikan kepercayaan kepadaku untuk mewakili sekolah di ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN), bak mendapat durian runtuh yang jatuh menimpa kepalaku (ups, pasti sakit kalo beneran nyata, hehe), aduh kok jadi ngelantur yak? yasudah kembali ke laptop, eh salah maksudnya kembali ke cerita.
Langganan:
Postingan (Atom)